Jumat, 16 Januari 2015

NAJLUK DUIT YUHH...NANG MARDIYAH..

Siapa sih Mardiyah kuwe..?


 Jika kita mengaku terlahir di daerah Kabupaten Tegal, kita pasti sering mendengar “tagline” yang berbunyi "Duite Mardiyah". Tagline yang menjelaskan kepada kita bahwa sosok Mardiyah merupakan orang yang memiliki banyak harta kekayaan,konon sampai tujuh turunan harta tersebut tidak habis sehingga menjadi kisah sepanjang hayat yang tidak mudah dilupakan bagi masyarakat Kabupaten Tegal.

Saya sendiri sering mendengar dari para orang tua yang sering mengucapkan tagline tersebut. Misalnya saja ketika seorang anak meminta dibelikan mainan "Ma, jaluk duite nggo tuku mobil-mobilan", merasa tidak mampu membelikan mainan itu karena tidak mempunyai uang maka ibu tersebut biasanya akan bilang "Duite mardiyah". Itulah tagline "Duite Mardiyah" yang sering diucapkan orang, khususnya bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah. Begitulah Mardiyah, saking legendarisnya sampai tahun 2016 ini namanya tidak pudar dari ingatan masyarakat Kabupaten Tegal.

Sebenarnya siapa sih sosok Maridyah itu? Sebenarnya banyak versi yang beredar di masyarakat mengenai sosok Mardiyah itu sendiri, ada yang mengatakan sosok Mardiyah itu pelit dan selalu memakai perhiasan di sekujur tubuhnya. Sementara itu, kematiannya terbilang tragis karena dibunuh oleh sekawanan perampok, bahkan ada yang mengisahkan jasadnya sempat dimutilasi oleh para perampok yang memasuki rumahnya.

Banyaknya versi cerita yang beredar di masyarakat ini membuat saya berfikir Mardiyah hanyalah sosok fiktif yang menjadi dongeng kakek-nenek saya dahulu. Tetapi dari berbagai versi cerita itu, saya menemukan persamaan yang akhirnya menjadi tagline sampai sekarang yaitu sosok Mardiyah yang memiliki banyak harta kekayaan. Belakangan saya membaca sebuah artikel dari sumber infotegal.com yang menurut saya informasinya cukup valid. Sosok Mardiyah ternyata benar adanya, bukan cerita fiktif atau dongeng orang-orang dahulu. Sampai sekarang keturunan mbah Mardiyah pun masih ada, walaupun mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui.

Berikut adalah cerita tentang Mardiyah tokoh legendaris asal Tegal yang kaya raya menurut sumber yang bisa dipertanggung jawabkan (menurut Dasuki Raswadi) adalah Hj. Mardiyah. Wanita kaya itu lahir sekitar tahun 1908 dan memiliki adik yang bernama Zainnudin Yasin, Zainurridho, Kapsah, dan A. Wahid. Beliau hidup dan meninggal di Desa Bandasari Kec. Dukuhturi Kab. Tegal. Dimakamkan di pemakaman umum Kemasanijo Bandasari Kec. Dukuhturi Kab. Tegal.

Kekayaan yang dimilikinya antara lain beberapa hotel (konon memiliki hotel juga di Makkah), kapal untuk memberangkatkan jemaah haji. Mardiyah sendiri memiliki sosok tubuh agak kurus kecil kulit sawo matang namun tiap hari selalu memakai perhiasaan emas yang full (penuh) sekujur tubuhnya dan tidak pelit.

Mardiah bangkrut karena anak laki-lakinya memiliki hobi berganti-ganti wanita dan rata-rata wanita yang bersamanya matre. Ditambah lagi suami Mardiah juga menikah kembali dengan Fatma. Akibat kakaknya dimadu, seluruh adik-adik Mardiah mulai menjauh dari Sidiq (suami Mardiah) hingga meninggalpun tidak ada yang menengok karena sakit hati kakaknya dimadu. Akhirnya Mardiah sakit dan meninggal kemudian bangkrut.

Peninggalan di Desa Bandasari dimana Ia tinggal yakni bangunan rumah megah tua yang sekarang di miliki H. Waluyo. Dan bangunan rumah tua megah, selatan bekas bioskop Pelangi Pagongan, sudah dipecah-pecah karena sudah dibeli oleh banyak orang. Termasuk yang sekarang yang digunakan untuk toko emas Sinar Cantik. Dahulu kala, bangunan rumah tersebut megah dan memiliki banyak kamar. Dulu kalau aktris ibu kota tempo dulu ke Tegal hampir selalu menginap di sana ketika era tahun 1970 an.

Sampai sekarang barang peninggalan emas Mardiah yang beratnya paling kecil 25 gram yang sempat dibagikan kepada adik – adiknya masih menjadi perburuan dan menjadi persoalan. Yang tengah dicari sekarang dan diyakini masih ada dan digadai oleh Canggah (dari adik Mardiah) yaitu cicin bertabur berlian diatasnya, cicin berlian model elizabeth dan gelang emas ular naga bertabur berlian.

Silsilah Mardiyah

Marfuah bersuamikan Yasin memiliki anak : Mardiah, Zanuddin Yasin, Zainurridho, Kapsah, A. Wahid.
Mardiah bersuamikan Sidiq memiliki anak: Anwar, Sobirin, Harun, Ahmad, Sikho.
Anak pertama Madiah yang bernama Anawar memilki anak Saifuddin (cucu Mardiah) dosen Universitas Muhammadiyah Semarang dan seorang penulis.
Anak, Putu, Buyut, Canggah, Wareng dan udheg-udheg dari Mardiah hidup di Jakarta, Semarang, Gersik dan Surabaya.
Anak Mardiah yang masih hidup tinggal satu yakni Sikho di Gersik Jawa Timur.

Namun anak, putu, buyut, wareng dan udheg – udheg dari adiknya Mardiah masih banyak hidup di Tegal seperti Di wilayah Kecamatan Adiwerna, Dukuhturi, Talang dan lain-lain.

(Hasil wawancara dengan Hj. Jamillah Yasin Ghufron)

Jumat, 31 Mei 2013

Bukan Sekedar NGIMPI tapi Impiaan,,Broo



Gendhoek adalah salah seorang mahasiswi  baru program pascasarjana di universitas negeri. Ia mendapat tugas kuliah untuk membuat laporan  ilmiah dan harus selesai dalam 2 minggu. Pergilah ia ke perpustakaan yang menyediakan computer bagi mahasiswa pascasarjana. Ia masuk ke jaringan kampusnya dan membuka situs dosen yang memberinya tugas. Dengan cekatan ia menelusur teks, mengikuti beberapa link di situs dosen tersebut, dan mengambil beberapa teks, catatan dan naskah yang ada di sana. Tak terasa 2 jam sudah ia surfing dengan 1 megabyte teks dan memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di rumah, setelah istirahat Gendhoek mulai melakukakan langkah keduanya, yaitu menganalisis teks dari internet kemudian melakukan reduksi data yang didapat. Sehingga di layarnya hanya ada tampilan konsep-konsep penting yang berkaitan dengan tugasnya. Untuk mempermudah pencarian informasi lebih lanjut, ia mengetik berbagai konsep tersebut dalam bentuk daftar. So ia punya daftar istilah penting lengkap dengan catatan-catatan (anotasi).

Hari berikutnya, Gendhoek melakukan langkah ketiga. Ia menuju ke perpustakaan dengan bekal berbagai konsep yang telah didapatkannya. Ia menggunakan konsep di dalam daftarnya untuk melakukan pencarian mendalam (in-depth).  Setelah berkutit selama 2 jam pada pangkalan data teks yang tersedia di perpustakaan, sekitar 100.000 berkas elektronik di dalam 4 CD-ROM ia telusuri. Ia pun menemukan sekitar 15 artikel penting yang relevan dengan tugasnya. Belum puas dengan  hasil yang diperolehnya, ia memutuskan untuk surfing ke internet lagi dan menemukan 5 tambahan artikel dalam bentuk full text. So ia punya 20 artikel untuk bahan tulisannya. Capek dech…! ia kemudian istirahat makan siang di kantin perpustakaan.
Gendhoek melanjutkan langkahnya, lagi-lagi ke dunia digital. Ia kembali ke perpustakaan, membaca semua abstrak artikel-artikel  yang ia dapatkan untuk menyusun kerangka tulisannya. Ia menyadari bahwa selain teks ia juga memerlukan gambar, diagram dan klip video. Untuk keperluan ini ia menuju ruang multimedia yang letaknya di dalam  perpustakaan juga. Tak terasa ia menghabiskan waktu 2 jam dan pulang dengan membawa 50 megabyte data teks, gambar, dan klip video. Kini ia punya gambar, diagram, dan beberapa potongan video  untuk melengkapi tulisannya.  Dengan melakukan sedikit salin-tempel kerangka tulisannya sudah dilengkapi table, gambar, diagram dan potongan video.  Setelah membacanya dua kali, ia memutuskan sebuah judul untuk karya tulisnya.

Pagi harinya Gendhoek mulai menulis. Ia mulai mengisi kerangka tulisannya dengan sebagian teks dari 20 artikel hasil pencariannya. Slow but sure, jadilah sebuah karya tulis. Sekali lagi dibacanya makalah tersebut dangan membuat koreksi di sana sini. Setelah merasa cukup puas,…. Aahh lega rasanya tugas udah selesai. Eittt ….!! tunggu dulu ia tidak berhenti sampai di sini.  So what next?? Gendhoek mengirim naskah makalah ini ke sebuah mailing list sekaligus forum diskusi. Tak lupa ia menulis message “mohon tanggapan temen-temen.”

Ia masih punya waktu satu minggu untuk menunggu apakah ada tanggapan, koreksi, usulan, atau sanggahan dari temen-temen diskusinya di seluruh dunia. Ternyata tanggapan mulai berdatangan, ada yang mengusulkan pemotonan bagian tertentu, ada yang mengusulkan tambahan, ada yang mengkritik, dan ada yang memujinya. Semua tanggapan dibaca dengan seksama. Dengan serius ia duduk di depan komputer untuk menulis naskah akhir. Setelah 3 jam selesai sudah makalah tersebut. Gendhoek tersenyum puas, lalu masuk ke situs dosennya dan mengirim makalahnya lewat e-mail. Misi  selesai 3 hari sebelum date-line.

Sebulan berlalu, dosen memberitahukan bahwa nilai bisa dilihat di situs jurusan pascasarjana. Dengan deg-degan, ia masuk kesitus tersebut dan melihat nilainy : A

Selasa, 28 Mei 2013

gagal dan gagal....kudune seperti itu

     
          Terpenting dalam menghadapi kegagalan adalah pensikapan terhadap kegagalan tersebut. Keterlenaan akan memberikan dampak negatif yang berupa penyakit mencari “kambing hitam”. Sudah barang tentu yang namanya penyakit akan memberikan multiple efect bagi penderita. Keragu-raguan akan mewarnai jalan hidup padahal hanya berpikir ragu-ragu saja akan mendatangkan kegagalan apalagi menjalani hidup dengan penuh keraguan. Pola kerja otak yang mengarah negatif (berpikir negatif) pun mulai bergerak dan dampaknya sangat luar biasa kinerja individu akan cenderung tidak produktif (menurun).
  
        Semakin sukses seseorang maka akan sering berjumpa dengan yang namanya kegagalan. Orang sukses tidak akan terlena dengan kegagalan yang menghampirinya. Orang sukses akan berbenah diri dan menyusun rencana baru guna melepaskan diri dari kegagalan. Kegagalan dijadikan cambuk untuk terus melangkah maju. 

        Berbeda dengan orang yang tidak sukses (orang yang gagal), mereka terlena dengan kegagalan. Orang gagal ini cenderung terjebak dalam pola pikir negatif atas kegagalan yang dialaminya. Oleh David J. Schwartz, Ph.D pakar leadership tingkat dunia dikatakan bahwa orang semacam ini akan menderita penyakit pikiran yang mematikan otak yang juga disebut penyakit yang mencari “kambing hitam” kegagalan. Akhirnya aksi menyalahkan pada banyak pihak bahkan pada Sang Pencipta-pun turut dipersalahkan dengan kegagalan yang menimpanya.



Kegagalan bukan berarti Tuhan meninggalkan Anda, tetapi Dia mempunyai rencana lebih baik.
Kegagalan bukan bearti anda tidak mencapai apa-apa, tetapi anda sudah mempelajari sesuatu
(Dr. Robert Schuller)
 http://mutek-tegal.blogspot.com