Jumat, 31 Mei 2013

Bukan Sekedar NGIMPI tapi Impiaan,,Broo



Gendhoek adalah salah seorang mahasiswi  baru program pascasarjana di universitas negeri. Ia mendapat tugas kuliah untuk membuat laporan  ilmiah dan harus selesai dalam 2 minggu. Pergilah ia ke perpustakaan yang menyediakan computer bagi mahasiswa pascasarjana. Ia masuk ke jaringan kampusnya dan membuka situs dosen yang memberinya tugas. Dengan cekatan ia menelusur teks, mengikuti beberapa link di situs dosen tersebut, dan mengambil beberapa teks, catatan dan naskah yang ada di sana. Tak terasa 2 jam sudah ia surfing dengan 1 megabyte teks dan memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di rumah, setelah istirahat Gendhoek mulai melakukakan langkah keduanya, yaitu menganalisis teks dari internet kemudian melakukan reduksi data yang didapat. Sehingga di layarnya hanya ada tampilan konsep-konsep penting yang berkaitan dengan tugasnya. Untuk mempermudah pencarian informasi lebih lanjut, ia mengetik berbagai konsep tersebut dalam bentuk daftar. So ia punya daftar istilah penting lengkap dengan catatan-catatan (anotasi).

Hari berikutnya, Gendhoek melakukan langkah ketiga. Ia menuju ke perpustakaan dengan bekal berbagai konsep yang telah didapatkannya. Ia menggunakan konsep di dalam daftarnya untuk melakukan pencarian mendalam (in-depth).  Setelah berkutit selama 2 jam pada pangkalan data teks yang tersedia di perpustakaan, sekitar 100.000 berkas elektronik di dalam 4 CD-ROM ia telusuri. Ia pun menemukan sekitar 15 artikel penting yang relevan dengan tugasnya. Belum puas dengan  hasil yang diperolehnya, ia memutuskan untuk surfing ke internet lagi dan menemukan 5 tambahan artikel dalam bentuk full text. So ia punya 20 artikel untuk bahan tulisannya. Capek dech…! ia kemudian istirahat makan siang di kantin perpustakaan.
Gendhoek melanjutkan langkahnya, lagi-lagi ke dunia digital. Ia kembali ke perpustakaan, membaca semua abstrak artikel-artikel  yang ia dapatkan untuk menyusun kerangka tulisannya. Ia menyadari bahwa selain teks ia juga memerlukan gambar, diagram dan klip video. Untuk keperluan ini ia menuju ruang multimedia yang letaknya di dalam  perpustakaan juga. Tak terasa ia menghabiskan waktu 2 jam dan pulang dengan membawa 50 megabyte data teks, gambar, dan klip video. Kini ia punya gambar, diagram, dan beberapa potongan video  untuk melengkapi tulisannya.  Dengan melakukan sedikit salin-tempel kerangka tulisannya sudah dilengkapi table, gambar, diagram dan potongan video.  Setelah membacanya dua kali, ia memutuskan sebuah judul untuk karya tulisnya.

Pagi harinya Gendhoek mulai menulis. Ia mulai mengisi kerangka tulisannya dengan sebagian teks dari 20 artikel hasil pencariannya. Slow but sure, jadilah sebuah karya tulis. Sekali lagi dibacanya makalah tersebut dangan membuat koreksi di sana sini. Setelah merasa cukup puas,…. Aahh lega rasanya tugas udah selesai. Eittt ….!! tunggu dulu ia tidak berhenti sampai di sini.  So what next?? Gendhoek mengirim naskah makalah ini ke sebuah mailing list sekaligus forum diskusi. Tak lupa ia menulis message “mohon tanggapan temen-temen.”

Ia masih punya waktu satu minggu untuk menunggu apakah ada tanggapan, koreksi, usulan, atau sanggahan dari temen-temen diskusinya di seluruh dunia. Ternyata tanggapan mulai berdatangan, ada yang mengusulkan pemotonan bagian tertentu, ada yang mengusulkan tambahan, ada yang mengkritik, dan ada yang memujinya. Semua tanggapan dibaca dengan seksama. Dengan serius ia duduk di depan komputer untuk menulis naskah akhir. Setelah 3 jam selesai sudah makalah tersebut. Gendhoek tersenyum puas, lalu masuk ke situs dosennya dan mengirim makalahnya lewat e-mail. Misi  selesai 3 hari sebelum date-line.

Sebulan berlalu, dosen memberitahukan bahwa nilai bisa dilihat di situs jurusan pascasarjana. Dengan deg-degan, ia masuk kesitus tersebut dan melihat nilainy : A

Selasa, 28 Mei 2013

gagal dan gagal....kudune seperti itu

     
          Terpenting dalam menghadapi kegagalan adalah pensikapan terhadap kegagalan tersebut. Keterlenaan akan memberikan dampak negatif yang berupa penyakit mencari “kambing hitam”. Sudah barang tentu yang namanya penyakit akan memberikan multiple efect bagi penderita. Keragu-raguan akan mewarnai jalan hidup padahal hanya berpikir ragu-ragu saja akan mendatangkan kegagalan apalagi menjalani hidup dengan penuh keraguan. Pola kerja otak yang mengarah negatif (berpikir negatif) pun mulai bergerak dan dampaknya sangat luar biasa kinerja individu akan cenderung tidak produktif (menurun).
  
        Semakin sukses seseorang maka akan sering berjumpa dengan yang namanya kegagalan. Orang sukses tidak akan terlena dengan kegagalan yang menghampirinya. Orang sukses akan berbenah diri dan menyusun rencana baru guna melepaskan diri dari kegagalan. Kegagalan dijadikan cambuk untuk terus melangkah maju. 

        Berbeda dengan orang yang tidak sukses (orang yang gagal), mereka terlena dengan kegagalan. Orang gagal ini cenderung terjebak dalam pola pikir negatif atas kegagalan yang dialaminya. Oleh David J. Schwartz, Ph.D pakar leadership tingkat dunia dikatakan bahwa orang semacam ini akan menderita penyakit pikiran yang mematikan otak yang juga disebut penyakit yang mencari “kambing hitam” kegagalan. Akhirnya aksi menyalahkan pada banyak pihak bahkan pada Sang Pencipta-pun turut dipersalahkan dengan kegagalan yang menimpanya.



Kegagalan bukan berarti Tuhan meninggalkan Anda, tetapi Dia mempunyai rencana lebih baik.
Kegagalan bukan bearti anda tidak mencapai apa-apa, tetapi anda sudah mempelajari sesuatu
(Dr. Robert Schuller)
 http://mutek-tegal.blogspot.com