Gendhoek adalah salah seorang mahasiswi baru program
pascasarjana di universitas negeri. Ia mendapat tugas kuliah untuk membuat
laporan ilmiah dan harus selesai dalam 2 minggu. Pergilah ia ke
perpustakaan yang menyediakan computer bagi mahasiswa pascasarjana. Ia masuk ke
jaringan kampusnya dan membuka situs dosen yang memberinya tugas. Dengan
cekatan ia menelusur teks, mengikuti beberapa link di situs dosen
tersebut, dan mengambil beberapa teks, catatan dan naskah yang ada di sana. Tak
terasa 2 jam sudah ia surfing dengan 1 megabyte teks dan
memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, setelah istirahat Gendhoek mulai
melakukakan langkah keduanya, yaitu menganalisis teks dari internet kemudian
melakukan reduksi data yang didapat. Sehingga di layarnya hanya ada tampilan
konsep-konsep penting yang berkaitan dengan tugasnya. Untuk mempermudah
pencarian informasi lebih lanjut, ia mengetik berbagai konsep tersebut dalam
bentuk daftar. So ia punya daftar istilah penting lengkap dengan
catatan-catatan (anotasi).
Hari berikutnya, Gendhoek melakukan langkah ketiga. Ia
menuju ke perpustakaan dengan bekal berbagai konsep yang telah didapatkannya.
Ia menggunakan konsep di dalam daftarnya untuk melakukan pencarian mendalam (in-depth).
Setelah berkutit selama 2 jam pada pangkalan data teks yang tersedia di
perpustakaan, sekitar 100.000 berkas elektronik di dalam 4 CD-ROM ia telusuri.
Ia pun menemukan sekitar 15 artikel penting yang relevan dengan tugasnya. Belum
puas dengan hasil yang diperolehnya, ia memutuskan untuk surfing
ke internet lagi dan menemukan 5 tambahan artikel dalam bentuk full text.
So ia punya 20 artikel untuk bahan tulisannya. Capek dech…! ia kemudian
istirahat makan siang di kantin perpustakaan.
Gendhoek melanjutkan langkahnya, lagi-lagi ke dunia digital.
Ia kembali ke perpustakaan, membaca semua abstrak artikel-artikel yang ia
dapatkan untuk menyusun kerangka tulisannya. Ia menyadari bahwa selain teks ia
juga memerlukan gambar, diagram dan klip video. Untuk keperluan ini ia menuju
ruang multimedia yang letaknya di dalam perpustakaan juga. Tak terasa ia
menghabiskan waktu 2 jam dan pulang dengan membawa 50 megabyte data
teks, gambar, dan klip video. Kini ia punya gambar, diagram, dan beberapa
potongan video untuk melengkapi tulisannya. Dengan melakukan
sedikit salin-tempel kerangka tulisannya sudah dilengkapi table, gambar, diagram
dan potongan video. Setelah membacanya dua kali, ia memutuskan sebuah
judul untuk karya tulisnya.
Pagi harinya Gendhoek mulai menulis. Ia mulai mengisi
kerangka tulisannya dengan sebagian teks dari 20 artikel hasil pencariannya. Slow
but sure, jadilah sebuah karya tulis. Sekali lagi dibacanya makalah
tersebut dangan membuat koreksi di sana sini. Setelah merasa cukup puas,…. Aahh
lega rasanya tugas udah selesai. Eittt ….!! tunggu dulu ia tidak berhenti
sampai di sini. So what next?? Gendhoek mengirim naskah makalah
ini ke sebuah mailing list sekaligus forum diskusi. Tak lupa ia menulis message
“mohon tanggapan temen-temen.”
Ia masih punya waktu satu minggu untuk menunggu apakah ada
tanggapan, koreksi, usulan, atau sanggahan dari temen-temen diskusinya di
seluruh dunia. Ternyata tanggapan mulai berdatangan, ada yang mengusulkan
pemotonan bagian tertentu, ada yang mengusulkan tambahan, ada yang mengkritik,
dan ada yang memujinya. Semua tanggapan dibaca dengan seksama. Dengan serius ia
duduk di depan komputer untuk menulis naskah akhir. Setelah 3 jam selesai sudah
makalah tersebut. Gendhoek tersenyum puas, lalu masuk ke situs dosennya dan
mengirim makalahnya lewat e-mail. Misi selesai 3 hari sebelum date-line.

